Bila Malam Semakin Malam
Kata orang, hidup itu harus tetap berjuang pantang menyerah apapun yang
terjadi, hanya demi satu kata “Sukses”. Apa arti kata itu? Seperti apa
bentuknya? Bagaimana cara mendapatkannya? Seperti apa rasanya? Kebanyakan orang
berjuang rela mati-matian demi kata itu, mengorbankan segalanya, menghadapi
suatu masalah begitu pahit sekali untuk di ingat, bahkan bisa membuat
kenangan-kenangan yang sakit untuk di kenang. Seberapa banyak orang-orang
terdekat memberi dukungan atau mungkin meremehkan kita, bilang kalau kita tidak
bisa bahkan tak mungkin untuk melakukannya untuk arti kata “Sukses”. Seperti
mencari emas dalam lautan lepas, dimana kedalamannya 1.000.000 kaki dari
permukaan laut, Terjun dari atas gunung tertinggi di Indonesia.
Ada yang mengaku membenci sangat kata itu, membuat orang-orang repot
susah, sampai pernah mengambil jalan yang salah, bertentangan dengan
orang-orang disekitar, menumpahkan keringat penuh dengan tangisan. Bagaimana
mungkin “Sukses” mengubah takdir manusia, awal suram berakhir terang, “Sukses?”
bukankah hanya sebuah tipuan untuk semua manusia yang ingin mencapainya, apalah
daya baru mencoba saja langsung gagal. “Sekarang kan enak, semua serba instan
apa-apa semua bisa didapatkan, tapi kenapa harus berjuang demi kata itu? Uang
habis tinggal minta, kalau tak punya maling aja gampang kan?” Tanya si pemuda
jalanan itu. Ada banyak sekali alasan atas segala pertanyaan yang di ucapnya.
Kerja atau bekerja, tidak ada hal semudah membalik telapak tangan. Kalaupun ada,
itu tidak akan bertahan lama, baru dirasa langsung bercampur lara akhirnya,
harus ada pertanggung jawabannya. Tapi yang terlihat “Sukses” belum tentu hidup
sebenarnya ia sukses, hanya penampilannya saja. Sungguh menyiksa diri sendiri,
mengaku tapi tak diakui.
Lihat! Para pejabat terlihat berwibawa layaknya berpenampilan rapi
seperti orang sukses. Mobil sports, rumah gedung berbintang lima, Tapi! Itu
semua ada pertanggung jawabannya, merasa mewah sendiri? Rakyat? Pernah
memikirkan? Ia itu bagi pejabat yang sadar, kalau hanya modal nama, Petani juga
bisa. Jangan hanya mau mewah dulu lah… Mau susah itu harus ada dalam fikiran.
Tak sadarkah dimanakah anda memakai harta itu? Pamerkanlah dirimu banggakan
dirimu, tak pernah merasa malu memakai uang Rakyat. Ini kritikan untuk para
Koruptor yang tetap bangga dengan kepunyaannya, apa yang dibanggakan? Uang hasil
apa yang dimakan? Bapak Ir. Soekarno pernah bilang dalam buku Wedjangan
Revolusi “Tidak pantas kalau terbitja matahari disambut oleh seorang bajingan.
Coba, apakah pantas, bajingan menjambut terbitnja matahari atau manusia
koruptor jang mencuri harta Rakyat jang menjambut terbitnja matahari itu hanja
manusia-manusia Abdi Tuhan, manusia-manusia jang bermanfaat”. Para Pahlawan
telah mengisyaratkan pada Calon Rakyat
hebat, perlu di ingat apa saja wejangan dari pahlawan bangsa kita, bagaimana
berat perjuangan mereka dalam melawan penjajah rakus dahulu, meneladani kobaran
semangat mereka, mengingat sejarah bagaimana tanah air ini bisa berdiri. Betapa
suksesnya mereka melawan serta mengusir penjajah, mendemokrasikan tanah air
demi kebahagiaan masa depan Indonesia.
Semua perkataan mereka selalu dipuja bagaikan kata mutiara penyemangat
hidup. Apa ajaibnya? Cobalah membaca biografi serta filsafat mereka. Pudarkan
westernisasi saat ini, hanya merugikan pemuda saja. Memikirkan keuntungan
sendiri? Sadarlah-sadar! Membeda-bedakan satu dengan yang lain karena berbeda
agama? Hargailah perbedaan, semua orang punya cara masing-masing untuk
menghadap kepada Tuhan. Indonesia kaya akan budayanya tapi Indonesia tetap satu
tak akan pernah pisah, pahlawan yang memberi contoh kepada kita Rakyat Negara
Indonesia yang hebat.
Tapi kini berbeda, semua telah terbinasa tak ada yang mempedulikan
mendengar bisikan-bisikan tentang seseorang yang pernah “Sukses”, padahal itu
sebagai suri tauladan penyemangat hidup. Semua tuturnya menyinggung perkatan hati.
Kesal keluh kesah, lagi-lagi diremehkan, “Bodoh jika sama sekali tidak berjuang!
Apa perlu di Keras atau di Kasar terlebih dahulu? Seperti zaman penjajahan
dulu, atau menunggu salah satu mati terlebih dahulu agar semangatnya bisa
muncul”. Hei! Seberapa besar kepedulian anda dengan kehidupan anda? Lantas
pantaskah untuk berbusa-busa didepan orang-orang, percuma tak ada yang peduli.
Mengapa harus bangkit sekarang?
Seberapa sukses
bangsa sekarang? Melawan bangsanya sendiri? Pahlawan lebih sukses memerangi penjajah,
demi kemerdekaan anak-anak dan cucunya. Hanya sekedar punya uang banyak? Itukah
sukses hanya membuat merdeka diri sendiri? manusia macam apa yang tega
memerdekakan diri sendiri. Mencoba sebuah kritikan saja langsung menuai protes,
marah serentak ingin menjatuhkan lawannya dengan mencari cara licik. Hei!
Padahal pujian itu hanya omong kosong belaka, sebatas harapan palsu atas sikap
yang diperbuat. Tak mau menerima kritikan, lembek ternyata mentalnya, bagaikan
kertas yang berhamburan. Ingat teknologi sekarang menantang anda. Seberapa kuat
anda dalam kepribadian yang anda banggakan.
Astaga! Setiap bisikan teknologi itu memang ajaib, mampu memutar fikiran
orang-orang yang mendengar dan melihatnya, menurut yang dilihat, sebagian
negara tak mampu mengontrol seberapa banyak alat vital yang terjual dengan
murahannya, pencuri yang singgah di negaranya, penjajah diam-diam menyelinap
dinegaranya. Ganja, Narkoba, Ekstasi eceran dijual secara gelap mata, ingat!
Dialah pembunuh para generasi muda, merusak otak lalu mencuri raganya. Sungguh,
sebagian orang tak pernah perduli dengan sesamanya, kaya sendiri itulah
bajingan bangsa, kalau begitu lebih mulia Petugas kebersihan dibanding pejabat
koruptor.
“Gagal beberapa kali asal ada semangat dan kerja keras itu lebih pantas,
dibanding tak mau gagal sama sekali” Ayolah bareng-bareng sadar toh, kebaikan
bersama. Kita memang berbeda dalam kepribadian, tapi kita tak pernah berbeda
dalam berjuang demi kata “Sukses”. Bagi saya sukses itu “Ketika kita bisa
bersama sadar apa yang pantas diperjuangkan, dan bisa menikmati hasilnya
bersama-sama” Sukses itu untuk bersama, ingat sisi kanan dan kiri, melihat atas
dan kebawah.
0 komentar:
Posting Komentar