Sabtu, 18 Juni 2016

Celotehan


Bila Malam Semakin Malam


 
Kata orang, hidup itu harus tetap berjuang pantang menyerah apapun yang terjadi, hanya demi satu kata “Sukses”. Apa arti kata itu? Seperti apa bentuknya? Bagaimana cara mendapatkannya? Seperti apa rasanya? Kebanyakan orang berjuang rela mati-matian demi kata itu, mengorbankan segalanya, menghadapi suatu masalah begitu pahit sekali untuk di ingat, bahkan bisa membuat kenangan-kenangan yang sakit untuk di kenang. Seberapa banyak orang-orang terdekat memberi dukungan atau mungkin meremehkan kita, bilang kalau kita tidak bisa bahkan tak mungkin untuk melakukannya untuk arti kata “Sukses”. Seperti mencari emas dalam lautan lepas, dimana kedalamannya 1.000.000 kaki dari permukaan laut, Terjun dari atas gunung tertinggi di Indonesia.
Ada yang mengaku membenci sangat kata itu, membuat orang-orang repot susah, sampai pernah mengambil jalan yang salah, bertentangan dengan orang-orang disekitar, menumpahkan keringat penuh dengan tangisan. Bagaimana mungkin “Sukses” mengubah takdir manusia, awal suram berakhir terang, “Sukses?” bukankah hanya sebuah tipuan untuk semua manusia yang ingin mencapainya, apalah daya baru mencoba saja langsung gagal. “Sekarang kan enak, semua serba instan apa-apa semua bisa didapatkan, tapi kenapa harus berjuang demi kata itu? Uang habis tinggal minta, kalau tak punya maling aja gampang kan?” Tanya si pemuda jalanan itu. Ada banyak sekali alasan atas segala pertanyaan yang di ucapnya. Kerja atau bekerja, tidak ada hal semudah membalik telapak tangan. Kalaupun ada, itu tidak akan bertahan lama, baru dirasa langsung bercampur lara akhirnya, harus ada pertanggung jawabannya. Tapi yang terlihat “Sukses” belum tentu hidup sebenarnya ia sukses, hanya penampilannya saja. Sungguh menyiksa diri sendiri, mengaku tapi tak diakui.
Lihat! Para pejabat terlihat berwibawa layaknya berpenampilan rapi seperti orang sukses. Mobil sports, rumah gedung berbintang lima, Tapi! Itu semua ada pertanggung jawabannya, merasa mewah sendiri? Rakyat? Pernah memikirkan? Ia itu bagi pejabat yang sadar, kalau hanya modal nama, Petani juga bisa. Jangan hanya mau mewah dulu lah… Mau susah itu harus ada dalam fikiran. Tak sadarkah dimanakah anda memakai harta itu? Pamerkanlah dirimu banggakan dirimu, tak pernah merasa malu memakai uang Rakyat. Ini kritikan untuk para Koruptor yang tetap bangga dengan kepunyaannya, apa yang dibanggakan? Uang hasil apa yang dimakan? Bapak Ir. Soekarno pernah bilang dalam buku Wedjangan Revolusi “Tidak pantas kalau terbitja matahari disambut oleh seorang bajingan. Coba, apakah pantas, bajingan menjambut terbitnja matahari atau manusia koruptor jang mencuri harta Rakyat jang menjambut terbitnja matahari itu hanja manusia-manusia Abdi Tuhan, manusia-manusia jang bermanfaat”. Para Pahlawan telah mengisyaratkan pada  Calon Rakyat hebat, perlu di ingat apa saja wejangan dari pahlawan bangsa kita, bagaimana berat perjuangan mereka dalam melawan penjajah rakus dahulu, meneladani kobaran semangat mereka, mengingat sejarah bagaimana tanah air ini bisa berdiri. Betapa suksesnya mereka melawan serta mengusir penjajah, mendemokrasikan tanah air demi kebahagiaan masa depan Indonesia.
Semua perkataan mereka selalu dipuja bagaikan kata mutiara penyemangat hidup. Apa ajaibnya? Cobalah membaca biografi serta filsafat mereka. Pudarkan westernisasi saat ini, hanya merugikan pemuda saja. Memikirkan keuntungan sendiri? Sadarlah-sadar! Membeda-bedakan satu dengan yang lain karena berbeda agama? Hargailah perbedaan, semua orang punya cara masing-masing untuk menghadap kepada Tuhan. Indonesia kaya akan budayanya tapi Indonesia tetap satu tak akan pernah pisah, pahlawan yang memberi contoh kepada kita Rakyat Negara Indonesia yang hebat.
Tapi kini berbeda, semua telah terbinasa tak ada yang mempedulikan mendengar bisikan-bisikan tentang seseorang yang pernah “Sukses”, padahal itu sebagai suri tauladan penyemangat hidup. Semua tuturnya menyinggung perkatan hati. Kesal keluh kesah, lagi-lagi diremehkan, “Bodoh jika sama sekali tidak berjuang! Apa perlu di Keras atau di Kasar terlebih dahulu? Seperti zaman penjajahan dulu, atau menunggu salah satu mati terlebih dahulu agar semangatnya bisa muncul”. Hei! Seberapa besar kepedulian anda dengan kehidupan anda? Lantas pantaskah untuk berbusa-busa didepan orang-orang, percuma tak ada yang peduli. Mengapa harus bangkit sekarang?
Seberapa sukses bangsa sekarang? Melawan bangsanya sendiri? Pahlawan lebih sukses memerangi penjajah, demi kemerdekaan anak-anak dan cucunya. Hanya sekedar punya uang banyak? Itukah sukses hanya membuat merdeka diri sendiri? manusia macam apa yang tega memerdekakan diri sendiri. Mencoba sebuah kritikan saja langsung menuai protes, marah serentak ingin menjatuhkan lawannya dengan mencari cara licik. Hei! Padahal pujian itu hanya omong kosong belaka, sebatas harapan palsu atas sikap yang diperbuat. Tak mau menerima kritikan, lembek ternyata mentalnya, bagaikan kertas yang berhamburan. Ingat teknologi sekarang menantang anda. Seberapa kuat anda dalam kepribadian yang anda banggakan.
Astaga! Setiap bisikan teknologi itu memang ajaib, mampu memutar fikiran orang-orang yang mendengar dan melihatnya, menurut yang dilihat, sebagian negara tak mampu mengontrol seberapa banyak alat vital yang terjual dengan murahannya, pencuri yang singgah di negaranya, penjajah diam-diam menyelinap dinegaranya. Ganja, Narkoba, Ekstasi eceran dijual secara gelap mata, ingat! Dialah pembunuh para generasi muda, merusak otak lalu mencuri raganya. Sungguh, sebagian orang tak pernah perduli dengan sesamanya, kaya sendiri itulah bajingan bangsa, kalau begitu lebih mulia Petugas kebersihan dibanding pejabat koruptor.
“Gagal beberapa kali asal ada semangat dan kerja keras itu lebih pantas, dibanding tak mau gagal sama sekali” Ayolah bareng-bareng sadar toh, kebaikan bersama. Kita memang berbeda dalam kepribadian, tapi kita tak pernah berbeda dalam berjuang demi kata “Sukses”. Bagi saya sukses itu “Ketika kita bisa bersama sadar apa yang pantas diperjuangkan, dan bisa menikmati hasilnya bersama-sama” Sukses itu untuk bersama, ingat sisi kanan dan kiri, melihat atas dan kebawah.
 

DJAKARTA JOURNEY Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang